Showing posts with label Tokoh. Show all posts

gravatar

SD 3 TENGGELES KUDUS MENGUKIR PRESTASI


Menggali Kreativitas Anak
Belajar
Kudus,SD 3 Tenggeles yang terletak di wilayah Kudus bagian Timur memiliki potensi sumberdaya Manusia yang luar biasa.Pasalnya Sekolah tersebut berada di tengah tengah warga masyarakat yang sangat Religius.Dipimpin Kepala Sekolah H.Abdul Kodir yang memiliki prestasi sebagai guru Teladan 2 Tingakt Upt Pendidikan Mejobo diharapkan ke depan mampu mengukir prestasi yang membangggakan di Kabupaten Kudus.Dengan berbekal dana pribadi untuk membelikan laptop untuk 10 siswa serta rencana penambahan Wi-Fi untuk melengkapi kegiatan ekstra Kurikuler,diharapkan siswa tidak Gap Tek dalam era Digital seperti sekarang ini.Nampak siswa antusias mengikuti pelajaran yang diberikan mulai dari siswa kelas 3 sampai kelas 6.
Dengan berbekal tekat yang luar biasa dan kemauan yang keras segenap guru dan Kepala sekolah yang akrab dipanggil Pak Haji ini menggunakan tempat seadanya dan prasarana yang jauh dari kesan layak.Namun hal ini tidak mengendorkan semangat untuk terus berkarya buat
Mejobomencerdaskan kehidupan bangsa.Walaupun memiliki jabatan sebagai Kepala Sekolah H.Abdul Kadir masih membetulkan genting sekolah yang bocor,lantaran para guru sibuk mengajar sehingga H.Abdul Kadir rela melakukan perbaikan walaupun bukan tugasnya.Disinilah tergambar jelas bagaimana pribadi beliau yang dibanggakan segenap siswa dan wali murid sehingga jumlah murid dari tahun ke tahun tidak pernah mengalami kekurangan jumlah.
*Mr/Bastian.



gravatar

Slamet Suryawan Sahak, Dari Kontroversi Menjadi Sesuatu


Kudus - Ada sebuah hadist "Khoirunnaasi Anfa'uhum Linnaasi" yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, hadist ini nampaknya dijadikan prinsip hidup oleh dua pejuang yang berasal dari Lombok, Yakni Bapak Lalu Slamet Suryawan Sahak bersama istri, Ibu Nursyda Syam. 


Slamet Suryawan Sahak, Dari Kontroversi Menjadi Sesuatu

Di Desa Ijo Balit Lombok Timur, sebuah oasis ditebarkan mereka di kawasan yang populer dengan julukan “Lendang Panas” alias hamparan atau padang panas. Kawasan Ijo Balit pada medio 1980-an adalah daerah tandus gersang susah air dan rusak karena eksploitasi penambangan batu apung dan pasir yang tak terkendali. Hal ini kemudian mengusik Slamet Sahak untuk melakukan perubahan. Sepulang menimba ilmu arsitektur di Yogyakarta pada 1982, Slamet mendedikasikan dirinya untuk menghijaukan kawasan terpencil di desa tetangga tanah kelahirannya. Berbekal pengetahuan dan kemampuan teknis yang dimilikinya, Slamet berusaha meyakinkan warga sekitar bahwa air bisa melimpah di kawasan itu. Ide awal Slamet untuk menghijaukan Ijo Balit adalah dengan membelah bukit setinggi 14 hingga 18 meter sejauh 2 kilometer untuk menaikkan dan mengalirkan air dari sungai yang jaraknya 4 kilometer dari kawasan Ijo Balit.
Semua orang pun lantas memberi julukan tambahan padanya, yaitu Slamet Sahak Gendeng atau Gila. 

Sebuah pemikiran logis dari warga sekitar, karena ketika pemerintah daerah saja tidak pernah berhasil atau mau melakukan pembangunan irigasi untuk mendatangkan air ke kawasan itu selama bertahun-tahun, bagaimana mungkin seorang Slamet bakal bisa? Namun ternyata Slamet bisa membalikkan logika tak masuk akal banyak orang itu. Slamet membuktikan bahwa teori disertai praktik dilandasi semangat baja tak lekang putus asa, total bukit yang bisa dibelahnya dengan linggis dan cangkul mencapai 9 km, selain air yang kini melimpahi Ijo Balit sehingga menjadi kawasan yang ijo royo-royo, sebuah taman wisata air bernama Lembah Hijau dengan kolam renang dan danau buatan beserta pembangkit listrik tenaga mikrohidro di dalamnya, juga menjadi ikon di kawasan itu. Dan pengabdian Slamet ternyata tak pernah berhenti hanya di lingkungan dan sosial ekonomi,semangat berbagi di bidang pendidikan serta kesehatan adalah cita-cita yang tengah diwujudkannya saat ini.
Sumber: K!ck Andy (Jumat, 7 Febuari 2014)



Dari kisah inspiratif Pak H. Slamet diatas, dapat kita ambil banyak pelajaran. Mimpi beliau terwujud dengan alat yang sederhana, namun dengan semangat baja yang luar biasa. Coba kita lihat potret pemerintahan sekarang yang ketika membangun pasti memerlukan biaya Milyaran Rupiah, itupun selesainya lama dan bahkan kadang proyek tidak selesai. Semoga dengan ini Pemerintah dapat tergugah dan menjadi inspirasi untuk mereka.

(Oemam /rohzana)