Showing posts with label Sejarah. Show all posts

gravatar

Masjid Menara Kudus



Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsadan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549Masehiatau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Pada masa kini, masjid ini biasanya menjadi pusat keramaian pada festival dhandhanganyang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan Ramadan. 
Menara Kudus
Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Masjid Al Aqsa Kudus
Masjid Al Aqsa Kudus



Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrabmasjid yang ditulis dalam bahasa Arab.


Adapun Arsitekturnya adalah :

1. Masjid Menara

Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918-an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang merupakan "padasan" tersebut merupakan peninggalan kuna dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".
Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.
2. Menara

Menara Masjid
Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).
Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.
Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpangbangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Demikian info kami mengenai Masjid Menara Kudus semoga bermanfaat. 


Sumber : wikipedia - ensiklopedia bebas
Gambar : Gawi Bastian

#cambria

Powered by SouvenirBagus & GrosirKudus

gravatar

Ampyang Maulid Loram Expo 2014


Ampyang Maulid dan Loram Expo 2014 Kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Acara tersebut akan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Januari 2014.


Adapun start Ampyang Maulid start dari lapangan Kongsi Loram Wetan pukul 13.00 dan Finish ada di halaman Masjid At Taqwa Loram Kulon. Bagi sedulur ISK yang ingin meyaksikan kirab Budaya Ampyang maulid silahkan hadir dan menyaksikan di sepanjang jalan yang di lalui, mulai lapangan kongsi hingga Masjid Wali At Taqwa Loram Kulon.

Selain yang diatas adapula Loram Expo yang diadakan di Gedung Pengajian NU Loram Kulon Pada tanggal 8 Januari sampai 14 Januari 2014 dimana stand dibuka pada jam 08.00 WIB  sampai dengan 21.00 WIB.Pada acara tersebut panitia juga menampilkan kretifitas masyarakat dan lomba terbang papat. Jadi jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan pesta rakyat tersebut dan ambil hikmah di balik semua kegiatan AmpyangMaulid dan Loram Expo 2014.

#cambria 
Informasi diatas dipersembahkan oleh souvenirbagus & grosirkudus

gravatar

Patung Selaras Dan Seimbang ( Pertigaan Pentol Kudus )

Patung Pertigaan Pentol Kudus
Patung Selaras Dan Seimbang

Kudus terkenal dengan kota kretek, namun tidak hanya hasil kretek saja yang dibanggakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah patung-patung kokoh pun berdiri tegak menhiasi kota ini yang menjadikan Kota ini sebagai hasil karya seni paling tinggi dalam budaya manusia.

Patung Selaras dan  Seimbang yang berada di Pertigaan Pentol merupakan hasil karya  Pematung Benny Ronald Tahalele yang dibantu dengan Assisten pematung Iwan Aswan, Tehnisi A. Hargono Soegijo yang di Produksi oleh Triyasa Studio Jakarta. Tingginya 500 centimeter, dengan bahan baku logam yang dicairkan dan dituang (panas), logam cetak dengan tehnik electropalting. Setumpu berbahan baku andesit atau batu candi. Patung ini merupakan hasil kerjasama antara Pemda Kudus dengan PT. Djarum.

Adapun makna yang tersirat dalam Patung Selaras dan Seimbang tersebut adalah satu kondisi fundamental bagi seorang atau suatu bangsa untuk siap tinggal landas menuju dan mencapai hal-hal baru.

#cambria
Informasi diatas dipersembahkan oleh souvenirbagus & grosirkudus


gravatar

Lambang Kabupaten Kudus yang Elok Serta Penuh Dengan Arti

apa dari arti sebuah lambang Kabupaten Kudus itu ? 
nah untuk anda yang belum mengetahui arti tersebut, kami akan memberitahukan kepada anda mengenai lambang dari kabupaten kudus berserta simbol-simbol yang
berada di dalamnya.




lambang Kabpaten Kudus terbagi dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian atas, tengah dan bawah, yaitu : 
=> Bagian Atas
   - Tulisan KUDUS, berarti nama wilayah/daerah, yaitu Kabupaten Kudus.
   - Ukir-ukiran, melambangkan nilai-nilai cipta dan budaya yang tinggi dari rakyat Kudus
=> Bagian Tengah
   - Menara Kudus, melambangkan kebesaran agama Islam
   - Bintang Sudut Lima, berarti keteguhan beragama/Iman
   - Keris bengkok/eluk sembilan, lambang ksatria
   - Pohon Beringin, lambang kepemimpinan dan pengayoman.
   - Empat tingkat lantai alas / altar dan lima mata rantai, berarti tahun proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indoneia 1945
   - Rantai, berarti persatuan
   - Dua buah gunung, berarti adanya sumber kekayaan alam.
   - Warna biru tua, berarti ketenangan dan keuletan.
   - Tanah datar, melambangkan cita-cita keadilan sosial yang merata
   - Warna Hijau, berarti kesuburan.
   - Langit, melambangkan cita-cita yang tinggi dan luhur.
   - Warna biru muda, berarti tenang dan bersemangat
   - Setangkai padi, melambangkan kemakmuran pangan
   - Jumlah padi tujuh belas butir, berarti tanggal Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 17-8-1945
   - Buah kapas, melambangkan kemakmuran sandang
   - Jumlah kapas delapan, berarti bulan Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 17-8-1945
   - Warna hitam, berarti abadi
   - Bendera merah putih, melambangkan ketaatan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
=> Bagian Bawah
   - Rokok kretek klobot, berarti Kudus merupakan daerah Industri Rokok (penemu rokok kretek)
   - Jumlah rokok lima, merupakan bulan lahirnya lambang daerah ini (bulan Mei)
   - Dua batang tebu, melambangkan bahwa Kudus ada tebu rakyat yang menghasilkan gula tebu (gula Jawa), dan tebu pemerintah yang menghasilkan gula pasir
   - Ruas enam dan daun sembilan, menunjukkan tahun lahirnya lambang daerah ini yaitu 1969
   - Dua puluh lilin, menunjukkan tanggal lahirnya lambang daerah ini, yaitu 20 Mei 1969
   - Jumlah sembilan jari-jari kemudi, berarti bahwa Kabupaten Daerah Tingkat II Kudus dibagi menjadi sembilan wilayah kecamatan.
   - Benang Lawe, menunjukkan bahwa Kudus juga daerah industri benang tenun (tekstil) baik usaha pemerintah maupun swasta, termasuk juga home industri.

Selain tiga bagian tersebut, masih ada arti dan makna lain dalam lambang daerah Kabupaten Kudus yaitu:
   - Bentuk perisai, mengandung maksud pertahanan dan perlindungan
   - Semboyan NAGRI CARTA BHAKTI, berarti wilayah/ daerah Kudus, 
     pemerintah dan rakyat di daerah yang selalu sibuk bekerja sesuai fungsi masing-masing, 
     sepi ing pamrih, rame ing gawe untuk menuju cita-cita tata tentrem kerta raharja (masyarakat adil dan            makmur lahir batin) dengan bakti, cinta dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
   - Semua pelisir (tepi dan dalam) berwarna kuning mas, melambangkan kebulatan tekad pemerintah dan           rakyat Kudus menuju masyarakat adil dan makmur  berdasarkan Pancasila
   - Dua buah gunung adalah Gunung Muria (Kudus sebelah Utara) yang menjadi latar belakang daerah              Kudus, di sisi lain ternyata mengandung macam-macam mineral dan hasil pertanian sperti posphat,                mangaan, kopi, panili, kapuk randu, dan lainnya. Di tempat ini terdapat juga Makam Kanjeng Sunan              Muria (Raden Mas Said), salah seorang Wali Sembilan, penyebar agama Islam yang terkenal, 
     tempat istirahat (Pesanggrahan) Colo, air terjun Monthel dan pertamanan.

Sumber : allaboutlogo

*Oemam

gravatar

Bupati Kudus lantik 116 kepala desa yang baru

Kudus – Senyum cerah mengembang di wajah 116 orang calon kepala desa. Hari ini menjadi hari yang sangat bersejarah bagi mereka. Pasalnya, pagi ini mereka dilantik menjadi kepala desa definitif oleh Bupati Kudus, H. Musthofa, secara langsung di pendopo kabupaten (17/12)

Pelantikan secara langsung dan bersamaan inipun disebutkan oleh bupati Kudus sebagai bagian dari pelaksanaan pilkades secara serentak yang telah digelar pada 24 november lalu. “Banyak pihak yang awalnya meragukan terselenggaranya pilkades serentak tersebut. Namun, takhirnya dapat berjalan dengan baik. Saya ucapkan terimakasih kepada jajaran kepolisian, pemerintah desa dan kecamatan, dan semua pihak yang telah membantu suksesnya penyelenggaraan pilkades tersebut”, katanya.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa dengan berakhirnya momen pilkades, maka sudah seharusnya rivalitas yang pernah ada pun ditinggalkan. “Mari belajar dewasa dalam berpolitik. Kepada yang saat ini dilantik, jangan pernah punya dendam. Dan bagi yang kalah, jangan kemudian mencari-cari kesalahan. Semua harus tunduk kepada hasil pilihan masyarakat”. Dirinya pun menggaris bawahi bahwa penyematan tanda kepangkatan olehnya tersebut merupakan bagian dari melekatnya amanat masyarakat dipundak mereka. “Saya harapkan, setelah pelantikan ini Kepala Desa yang baru segera saja bekerja dengan sebaik-baiknya. Jangan lupakan prinsip 4T dalam bekerja, yaitu tepat aturan, tertib administrasi, tepat sasaran, dan tepat manfaat. Jangan sampai seorang kepala desa menandatangani berkas tanpa dibaca lebih dahulu. Kalau ragu, segera saja konsultasikan dengan jajaran diatasnya” jelasnya.

Dengan Terkait hal tersebut, secara khusus dirinya meminta agar nantinya para kepala desa yang baru untuk bisa ikut diklat yang diadakan secara khusus. “Hal ini berangkat dari keprihatinan saya akan banyaknya kepala desa yang terjerat kasus hukum akibat ketidakpahaman tentang aturan yang berlaku. Maka diklat tersebut sebagai wahana para kepala desa untuk lebih mengerti dan memahami segala aturan tentang penyelenggaraan pemerintahan desa”.

Di Pelantikan kepala desa secara serentak ini, ditandai dengan penandatanganan berita acara pengambilan sumpah yang dilakukan secara simbolis oleh kepala desa termuda, yaitu Joni Awang Ristihadi dari Colo dan kepala desa tertua, Kaharyudi dari Kirig. Sementara serah terima jabatan secara simbolis dilakukan oleh kepala desa Dersalam, antara Petrus Joko Lelono kepada Satya Gunawan Wahib Wahab, Selain itu pelantikan kepala desa ini melampaui batas rekor di kudus dari sebelumnya, di karenakan pelantikan  biasanya hanya ada beberapa desa saja.

*Oemam

gravatar

Engrang

Bersama Berbagi Informasi - isk

#isk_pict
Egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter,mainan tradisional ini mulai dilupakan oleh anak-anak dan beralih ke mainan yang jauh lebih modern.

#red_feather

gravatar

KI SECO AGENG LEGOWO Tokoh Pendiri Desa Karang Malang Kudus

  • SEJARAH DESA KARANGMALANG

    Karangmalang adalah sebuah desa yang terletak di barat laut wilayah kota Kudus. Desa ini termasuk dalam wilayah kecamatan Gebog, berbatasan dengan desa Peganjaran, Klumpit, Besito dan Bae. Desa ini terkenal sebagai desa priyayi dimana warga desanya sebagian besar berprofesi Guru dan pegawai pemerintahan, tetapi usaha konveksi, bordir dan batik juga berkembang pesat.
    Desa Karangmalang di dirikan oleh Ki Ageng Seco Legowo, beliau berasal dari Mataram, tepatnya wilayah Kesultanan Ngayogjokarto Hadiningrat. Beliau hidup pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono III. Beliau diberi kepercayaan sebagai Menteri Pertahanan ( Jogoreso). Tempat tinggal beliau yaitu di desa Karangmalang, Yogyakarta.
    Pada tahun 1825-1830 salah seorang putra Sri Sultan Haemngkubuwono III dari istri selir, yaitu Pangeran Ontowiryo (Pangeran Diponegoro) melakukan perlawanan terhadap Belanda. Penyebab utama dari perlawanan beliau adalah karena Belanda membuat jalan yang melintasi makam leluhur pangeran Diponegoro tanpa seijinnya. Tonggak-tonggak yang dipancangkan belanda akhirnya dicabut oleh pangeran Diponegoro sehingga menimbulkan kemarahan Belanda. Sejak saat itu mulailah perang Diponegoro. Pasukan pangeran Diponegoro bergerilya sehingga membuat Belanda sulit menangkap beliau. Tetapi Belanda menggunakan akal licik untuk menundukkan pangeran Diponegoro yaitu dengan menangkap sanak saudaranya serta menyiksanya. Akhirnya Pangeran Diponegoro mau berunding dengan Belanda demi keluarganya tetapi Belanda ingkar janji, bukannya perundingan yang dilakukan tetapi penangkapan Pangeran Belanda yang terjadi. Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dan diasingkan ke Manado, Sulawesi. Tahun 1844 dipindah ke Makasar, Sulawesi selatan dan wafat th 1855. Sementara itu Ki Ageng Seco Legowo melakukan tindakan penyelamatan diri bersama teman-temannya hijrah ke utara sampai ke hutan di lereng gunung Muria. Akhirnya beliau babat alas dan mendirikan sebuah desa yang dinamakan sesuai nama tempat kelahiran beliau yaitu “Karangmalang”.
    Ki Ageng Seco Legowo, mempunyai seorang istri dan seorang anak laki laki bernama Seco Rejo. Seco Rejo mempunyai 2 istri bernama Aril dan Sarinah. Seco Rejo mempunyai 2 anak laki-laki yaitu : 1) Wiro Joyo; 2) Ranu Joyo. Ranu Joyo bermukim di desa Bacin sedangkan Wiro Joyo bermukim di Karangmalang. Wiro Joyo mempunyai 9 anak yaitu : Kromo Joyo; Hj. Kholifah; Karidin (H.Sukur); Moro Joyo sadin; Rono Besar; Bagas; Wakibah; Jasirah; Singo Saryo (Pelal). Ranu Joyo mempunyai 11 anak yaitu: Joyo Leksono; Kerto Leksono; Prakto Wijoyo; Tro Wijoyo; Joyo Wongso; Wiro Rejo; Cokro Rejo; Sawijah; Satijah; Katijah; Sendang. Pada akhirnya anak ke 6 dari Ranu Joyo yaitu Wiro Rejo menikah dengan anak ke 2 dari Wiro Joyo yaitu Hj. Khlolifah. Dari pasangan ini lahirlah 8 anak yaitu: Ngasirah (bermukim di Ngetuk, Nalumsari,Jepara); Sanipah (bermukim di desa Blender, Kudus); H.Khasan (bermukim di dukuh Kemasan ,Karangmalang,Kudus); Koti’ah (bermukim di Besito, Kudus); Danoewarso (bermukim di Karangmalang); H. Khusin (bermukim di Karangmalang); Welas (bermukim di Karangmalang); Pasmirah (bermukim di Karangmalang).
    Punden Kyai Kramat adalah makam peninggalan Ki Ageng Seco Legowo yang didirikan di tanah milik beliau yang akhirnya diwariskan kepada Danoewarso anak ke 5 dari Hajjah Kholifah dan Wiro Rejo, yang mendapat mandat untuk merawat dan melestarikannya. Danoewarso mempunyai 4 orang istri, yaitu Karjiyem; Sasri; Kasri dan Paniyah. Dari Karjiyem mempunyai anak 8 orang yaitu: Rumisih; Soekarni; Soeripah; Soebari; Soeminah; Kasinu; Kardono dan Karmito. Dari Sasri (blasteran Nepal dan Jawa) diperoleh 8 anak yaitu: Ramelan; Soewarto; Soepardi; Soekarso; Soekarsi(Munajad); Rumidah; Soekarno dan Joerawi. Dari Kasri diperoleh 3 anak yaitu: Sudar; Kartono dan Sukinah. Dari Paniyah diperoleh 1 anak yaitu Kusnin. Ke 4 istri Danoewarso dibuatkan rumah sendiri dan hidup damai bersama anak-anaknya di desa Karangmalang. Pada saat menjelang akhir hidupnya Danoewarso berpesan kepada Soekarno yaitu anak ke 7 dari istri Sasri, beliau berpesan bahwa Punden diwariskan kepada Soekarno untuk dijaga, dirawat dan dilestarikan sampai akhir jaman. Pewarisan punden ini tidak sekedar kata-kata tetapi ada hitam di atas putih berupa tulisan tangan asli beliau. Oleh Soekarno cerita turun temurun ini diceritakan kepada anak-anaknya, sanak saudara keturunan Ki Ageng Seco Legowo dan ditulis serta diarsipkan oleh anak-anak Soekarno.
    Amanat besar dari Ki Ageng Seco Legowo kepada semua anak turunnya agar menjaga, merawat dan melestarikan warisan sejarah beliau jangan sampai ada orang yang menyalahgunakan Punden Kyai Kramat untuk hal-hal yang tidak sesuai norma agama dan tatanan sosial budaya bangsa Indonesia atau memutarbalikkan fakta sejarah demi kepentingan yang tidak baik.
    Soekarno tetap melestarikan acara kirim doa dan “Buka Luwur” (mengganti kain penutup makam) Keluarga Ki Ageng Seco Legowo pada malam 11 Syura beserta warga masyarakat desa Karangmalang di Punden Kyai Kramat. Meskipun Soekarno akhirnya wafat pada 27 Maret 2011 dan istrinya (Sulistyowati) wafat juga 3 bulan kemudian pada 21 Juni 2011, acara kirim doa dan Buka Luwur pada tanggal 11 Syura tetap dilaksanakan sampai sekarang. Soekarno mempunyai 4 orang anak yaitu: Sri Yuni Karnawati; Dwi Retnosari; Priyoko dan Nina Kumalasari, yang komitmen dengan amanat besar menjaga, merawat dan melestarikan warisan sejarah Ki Ageng Seco Legowo juga Punden Kyai Kramat.
    Anak turun Ki Ageng Seco Legowo tersebar di Ngetuk, Nggemiring, Blender, Kemasan, Besito, Karangmalang, Bacin, Batu Malang (jawa Timur), Kesambi, Pedak, Bumiayu, dan beberapa tempat lain, semoga semua dalam lindungan ALLAH SWT.
    Ditulis oleh pelaku sejarah berdasarkan cerita turun temurun dan fakta.


    Ttd
    SYK

gravatar

SEJARAH BERDIRINYA DESA KARANGMALANG KECAMATAN GEBOG KABUPATEN KUDUS

Karangmalang adalah sebuah desa yang terletak disebelah barat laut pusat pemerintahan kabupaten Kudus dan masuk di wilayah kecamatan Gebog. Desa Karangmalang terkenal sebagai gudangnya kaum priyayi seperti guru dan pegawai negeri lainnya. Meskipun demikian usaha konveksi dan bordir juga berkembang pesat.

Pendiri Desa Karangmalang adalah Ki Ageng Seco Legowo. Beliau berasal dari Mataram, tepatnya dalam wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau hidup pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono III dan di percaya sebagai seorang Jogoreso atau Menteri Pertahanan. Beliau di duga masih keturunan Raja ke-4 Kesultanan Kerajaan Mataram yakni Sunan Amangkuat 1 atau Sunan Tegal Arum. Tempat tinggal beliau di Desa Karangmalang Kota Gede Yogyakarta. Sekarang desa tersebut telah didirikan kampus Universitas Gajah Mada.

Pada tahun 1825-1830 salah seorang putra Sri Sultan Hamengkubuwono III dari istri selir yaitu Pangeran Ontowiryo / Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Belanda. Faktor utama pemicu terjadinya peperangan adalah Belanda membuat jalan melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro tanpa seijinnya. Pangeran Diponegoro mendapat dukungan penuh mulai dari rakyat jelata sampai bangsawan dan ulama, salah satunya adalah Ki Ageng Seco Legowo. Namun dengan menggunakan strategi benteng stelse dan juga adu domba akhirnya Belanda memenangkan pertempuran melawan pasukan Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro pun akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Pada tahun 1844 dipindahkan ke Makasar Sulawesi Selatan sampai wafat tahun 1855.

Beberapa waktu kemudian Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, Ki Ageng Seco Legowo dinasehati oleh Sunan Kudus (Syeh Ja’far Shodiq) untuk diminta pindah menetap di Kudus karena waktu itu Kudus merupakan daerah yang aman. Akhirnya ki Ageng Seco Legowo bersama 2 istri dan putra - putrinya dan 5 orang temannya pergi menetap di Kudus. Setelah berziarah ke makam Sunan Kudus, beliau ke Muria untuk berziarah ke makam Sunan Muria. Saat beliau berziarah beliau ditemui oleh Sunan Muria dan diberi petunjuk untuk mendirikan desa baru yang terletak di selatan Muria. Akhirnya beliau bersama sahabat beliau babat alas daerah tersebut untuk membangun sebuah desa. Setelah babat alas selesai beliau menamakan desanya seperti nama desanya di mataram yakni Karangmalang.

*Terima Kasih buat ibu Sri (Nox Zara-facebook)
(generasi ke- 7 pendiri desa Karangmalang).
atas segala penjelasannya.
ini link blog desa Karangmalang kec Gebog Kab Kudus yang dibuat oleh mahasiswa KKN dari UMK,.....paling tidak bisa menjadi reverensi awal Anda...meskipun ada bbrp bagian yg tidak pas.
http://village-karangmalang.blogspot.com/2012/02/sejarah-berdirinya-desa-karangmalang.html

*Ndemblu

gravatar

AIR TIGA RASA PUNCAK MURIA di Kabupaten KUDUS

Air tiga rasa dahulu bermula dari
kedatangan Syeh Hasan Sadzali ke
Gunung Muria. Beliau adalah seorang musafir dari Bagdad Irak yang ingin
memuntut ilmu di daerah Muria. Ketika Syeh Hasan Sadzali menghadap kanjeng Sunan Muria, Raden Umar Said
untuk berguru, beliau dianjurkan
untuk pergi ke sebelah utara, tepatnya
di daerah Rejenu.
Belakangan diketahui Syeh Sadzali
mempunyai banyak ilmu dan karomah. Sehingga, dari waktu ke waktu ada
beberapa orang yang ingin berguru
kepada beliau, lama-lama santrinya
pun makin banyak. Melihat
perkembangan itu, maka Syeh Sadzali
bersama para santri dengan para penduduk sekitar membangun sebuah
mushola yang dibawahnya terdapat
sebuah mata air yang digunakan para
santri beliau untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Namun, pada suatu ketika muncul
berita bahwa air dari mata air tersebut
mempunyai khasiat dapat
menghidupkan orang yang sudah
meninggal. Lama kelamaan masyarakat
Gunung Muria dan sekitarnya datang berbondong-bomdong untuk
melakukan persembahan atau ritual-
ritual karena ingin mendapatkan
berkah dari mata air tersebut. Ketika Syeh Sadzali melihat hal itu,
beliau langsung menutup mata air
tersebut, karena hal itu dianggap
musrik. Beberapa waktu kemudian di
sebelah barat mushola yang berjarak
kurang lebih 100 meter, muncul tiga buah mata air yang kemungkinan
besar dibuat oleh beliau. Para santri
pun menggunakan ketiga mata air
tersebut sebagai tempat mandi,
mencuci dan lain-lain sebagai
pengganti mata air yang di tutup oleh Syeh Sadzali. Setelah beliau dipanggil
untuk menghadap sang khaliq, beliau
dimakamkan di sekitar tiga mata air
tersebut. Mengenai istilah air tiga rasa, menurut
penjaga makam, istilah tersebut berasal
dari lidah para musafir yang datang.
Ketika pengunjung meminum ketiga
sumber mata air tersebut, mereka
merasakan rasa air yang berbeda-beda dari ketiga bilik itu. Maka sejak saat
itulah masyarakat sekitar gunung
muria dan para musafir yang singgah
menamakan mata air tersebut dengan
sebutan “ Air Tiga Rasa”. Ada bermacam cerita tentang khasiat
ketiga air tersebut. Sumber air pertama
mempunyai rasa tawar-tawar masam
(Jawa: anyep-anyep asem/ kecut) yang
bekhasiat dapat mengobati berbagai
penyakit. Sumber air kedua mempunyai rasa yang mirip dengan
minuman ringan bersoda seperti air
sprite yang bekhasiat dapat
menumbuhkan rasa percaya diri dalam
menghadapi berbagai permasalahan
hidup. Sumber air ketiga mempunyai rasa mirip minuman keras air tuak/
arak yang bekhasiat dapat
memperlancar rezeki jika bekerja keras
untuk mendapatkannya. Ketiga jenis
air tersebut jika dicampur menjadi satu,
rasanya menjadi air tawar. Itulah daya tarik dari objek wisata air tiga rasa,
penuh sejarah unik dan mitos. Pengunjung yang kesana tentunya
punya tujuan yang beragam. Ada yang
memang niat ziarah ke makam Syeh
Sadzali, atau penasaran ingin melihat
dan merasakan air tiga rasa. Bahkan
kadang ada beberapa orang yang mengadakan ritual tertentu di sekitar tempat itu.

gravatar

MUSEUM KRETEK dan KEARIFAN BUDAYA LOKAL

ISK,Museum Kretek yang didirikan Atas prakarsa dari Soeparjo Rustam,Sewaktu menjadi Gubernur
Jawa Tengah.Prakarsa ini timbul sewaktu Gubernur berkunjung ke Kudus tahun 1980 dan melihat langsung
ternyata potensi yang dimiliki oleh perusahaan rokok di Kudus sangat besar Kontribusinya dalam menggerakkan perekonomian daerah.
Potensi yang besar ini dilihat Soeparjo Rustam tidak saja dari segi pita cukai tetapi juga dari segi tenaga kerja yang terserap.

Terutama faktor Histories yang tak lepas dari nama Kudus sendiri yaitu tentang kelahiran KRETEK yang ditemukan oleh masyarakat Kudus.Museum yang dibangun diatas tanah seluas 2,5 Ha di Desa Getas Pejaten Kecamatan Jati Kabupaten Kudus diresmikan tanggal 3 Oktober 1986 oleh Menteri Dalam Negeri.

Disana tersimpan sejarah kewirausahaan Niti Semito,Diorama pengolahan bahan baku tembakau
pengolahan bahan baku Klobot,Bahan baku Cengkeh.
Disamping itu juga pengunjung dapat menyaksikan jenis tembakau,Cengkeh,saus dan benda benda Promosi msa lalu dan masa sekarang.

#Mr.Tan
 

gravatar

MITOS CANDI PRAMBANAN DIBUAT 1 MALAM


Foto: Candi Prambanan Dibuat oleh Seribu JIN..?  Inilah pembodohan luar biasa. Legenda seribu Jin yang menumpulkan peradaban dan kemajuan intelektual di tiap generasi muda bangsa ini. Generasi muda Indonesia, tiba masanya berpikir kritis dan menumbuhkan tradisi riset atas sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhurnya. Inilah bangunan yang lebih megah dan bertekhnologi tinggi melebihi gedung tinggi pencakar langit manusia modern! Mahakarya Cipta Para Leluhur!  Mengutip Soekarno melalui doktrin Jasmerah (jangan pernah melupakan sejarah!)-nya, sejarah punya peran besar yang dapat membangunkan spirit peradaban sebuah bangsa. Sejarah dapat menumbuhkan harapan. Membangkitkan kobar motivasi dan daya juang untuk tampil menjadi lebih baik.  Tetapi, sejarah juga punya peran untuk menumpulkan dan memadamkan motivasi. Bahkan berpotensi menumbuhkan kebodohan yang panjang bagi sebuah bangsa. Sehingga sebuah bangsa menjadi tidak maju-maju. Sulit melangkah dan melakukan terobosan.  Salah satunya adalah dengan adanya legenda-legenda atas peninggalan sejarah warisan leluhur. Kisah di balik berdirinya Candi Prambanan hanyalah sekian dari legenda yang punya besar mematikan potensi generasi muda untuk maju.  Dengan pemunculan fakta bahwa Candi Prambanan dibangun oleh sekumpulan Jin, yang dikisahkan secara turun-temurun, bahkan dituliskan dalam buku-buku sekolah sejak kelas Sekolah Dasar (SD), kita pun mewarisi keyakinan buruk bahwa Candi tersebut merupakan Mahakarya para makhluk halus yang berasal dari dunia antah-berantah.  Tiga Hal Buruk Hasil Pembodohan Intelektual  Apa yang terjadi kemudian? Saya menemukan beberapa fakta buruk ini akibat legenda-legenda tidak mendidik ini. Pertama, para generasi muda kemudian tidak memiliki minat untuk meneliti bagaimana sebenarnya bangunan bercita rasa tinggi tersebut dibangun. Dalam sebuah laporan yang saya baca di kompas, bicara soal penelitian, kita sangat kurang stok generasi yang suka penelitian. Jurusan yang berkaitan dengan telaah peninggalan warisan leluhur, justru sepi peminat!  Karena kita meyakini bahwa candi-candi dibuat oleh mahluk halus, kita menjadi merasa takut mengusik bangunan Candi karena takut kuwalat atau dimarahi makhluk yang menungguinya. Walhasil, kita tidak pernah tahu bagaimana candiu itu dibangun. Bagaimana mau tahu, wong mau menelitinya sudah keburu seram benar pikiran. Bagaimana mau menelitinya, wong sudah jelas dibangun oleh Jin.  Kedua, generasi muda didoktrin untuk percaya bahwa untuk menjadi manusia yang maju tidak perlu belajar tinggi-tinggi. Masih ada cara lain yang singkat, yaitu melalui proses supranatural. Jika kamu mau lulus ujian, gampang. Tinggal cari dukun sakti. Maka kamu bisa lulus dengan ilmu kesaktiannya!  Sekarang, kita dapati sangat marak para pelajar menggunakan model supranatural demi kelulusan ujian. Sebagai buahnya, kebiasaan buruk ini terbawa hingga mereka menjadi pemimpin. Lihatlah, bagaimana sebagian dari anggota dewan, para politisi, para pejabat, demi agar lolos meraih jabatan atau bahkan lolos dari jeratan hukum, mereka tidak segan-segan melibatkan dunia perdukunan!  Parahnya, mereka juga memanfaatkan doa kepada Tuhan sebagai sarana jalan pintas untuk menggapai cita-cita. Tetapi di sisi lain, mereka malah melupakan mengolah intelektualnya agar mampu meemecahkan masalah dan meraih cita-cita. Mengolah akal-pikir sembari berdoa kepada Tuhan adalah satu-kesatuan. Berdoa itu penting, tetapi berusaha sambil berdoa itu jauh lebih penting!  Ketiga, perhatian terhadap pelestarian benda-benda peninggalan leluhur menjadi sangat lemah. Benda-benda tersebut kemudian tidak mendapat perhatian yang berarti. Banyak peninggalan leluhur yang rusak. Lalu musnah dimakan usia. Bahkan hilang karena dicuri. Terjadi pencurian besar-besaran atas peninggalan warisan itu. Banyak peninggalan leluhur kita yang bernilai tinggi, dicuri dan dibawa ke luar negeri.  Padahal, nilai benda-benda zaman leluhur tersebut sangat berharga. Di dalam benda-benda tersebut tersimpan data-data sejarah. Tersimpan ilmu pengetahuan leluhur di zaman dulu. Karena banyaknya pencurian, walhasil kita semakin tidak tahu masa lalu tanah ini.  Karena itu, sudah saatnya kita berani bertanya dan menggugat sejarah. Benarkah Candi Prambanan dibangun oleh sekumpulan ribuan Jin? Bagaimana pendapat Anda?  Salam Indonesia Baru! #Mr.Tan
Inilah pembodohan luar biasa. Legenda seribu Jin yang menumpulkan peradaban dan kemajuan intelektual di tiap generasi muda bangsa ini. Generasi muda Indonesia, tiba masanya berpikir kritis dan menumbuhkan tradisi riset atas sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhurnya. Inilah bangunan yang lebih megah dan bertekhnologi tinggi melebihi gedung tinggi pencakar langit manusia modern! Mahakarya Cipta Para Leluhur!

Mengutip Soekarno melalui doktrin Jasmerah (jangan pernah melupakan sejarah!)-nya, sejarah punya peran besar yang dapat membangunkan spirit peradaban sebuah bangsa. Sejarah dapat menumbuhkan harapan. Membangkitkan kobar motivasi dan daya juang untuk tampil menjadi lebih baik.



Tetapi, sejarah juga punya peran untuk menumpulkan dan memadamkan motivasi. Bahkan berpotensi menumbuhkan kebodohan yang panjang bagi sebuah bangsa. Sehingga sebuah bangsa menjadi tidak maju-maju. Sulit melangkah dan melakukan terobosan.

Salah satunya adalah dengan adanya legenda-legenda atas peninggalan sejarah warisan leluhur. Kisah di balik berdirinya Candi Prambanan hanyalah sekian dari legenda yang punya besar mematikan potensi generasi muda untuk maju.

Dengan pemunculan fakta bahwa Candi Prambanan dibangun oleh sekumpulan Jin, yang dikisahkan secara turun-temurun, bahkan dituliskan dalam buku-buku sekolah sejak kelas Sekolah Dasar (SD), kita pun mewarisi keyakinan buruk bahwa Candi tersebut merupakan Mahakarya para makhluk halus yang berasal dari dunia antah-berantah.

Tiga Hal Buruk Hasil Pembodohan Intelektual

Apa yang terjadi kemudian? Saya menemukan beberapa fakta buruk ini akibat legenda-legenda tidak mendidik ini. Pertama, para generasi muda kemudian tidak memiliki minat untuk meneliti bagaimana sebenarnya bangunan bercita rasa tinggi tersebut dibangun. Dalam sebuah laporan yang saya baca di kompas, bicara soal penelitian, kita sangat kurang stok generasi yang suka penelitian. Jurusan yang berkaitan dengan telaah peninggalan warisan leluhur, justru sepi peminat!

Karena kita meyakini bahwa candi-candi dibuat oleh mahluk halus, kita menjadi merasa takut mengusik bangunan Candi karena takut kuwalat atau dimarahi makhluk yang menungguinya. Walhasil, kita tidak pernah tahu bagaimana candiu itu dibangun. Bagaimana mau tahu, wong mau menelitinya sudah keburu seram benar pikiran. Bagaimana mau menelitinya, wong sudah jelas dibangun oleh Jin.

Kedua, generasi muda didoktrin untuk percaya bahwa untuk menjadi manusia yang maju tidak perlu belajar tinggi-tinggi. Masih ada cara lain yang singkat, yaitu melalui proses supranatural. Jika kamu mau lulus ujian, gampang. Tinggal cari dukun sakti. Maka kamu bisa lulus dengan ilmu kesaktiannya!

Sekarang, kita dapati sangat marak para pelajar menggunakan model supranatural demi kelulusan ujian. Sebagai buahnya, kebiasaan buruk ini terbawa hingga mereka menjadi pemimpin. Lihatlah, bagaimana sebagian dari anggota dewan, para politisi, para pejabat, demi agar lolos meraih jabatan atau bahkan lolos dari jeratan hukum, mereka tidak segan-segan melibatkan dunia perdukunan!

Parahnya, mereka juga memanfaatkan doa kepada Tuhan sebagai sarana jalan pintas untuk menggapai cita-cita. Tetapi di sisi lain, mereka malah melupakan mengolah intelektualnya agar mampu meemecahkan masalah dan meraih cita-cita. Mengolah akal-pikir sembari berdoa kepada Tuhan adalah satu-kesatuan. Berdoa itu penting, tetapi berusaha sambil berdoa itu jauh lebih penting!

Ketiga, perhatian terhadap pelestarian benda-benda peninggalan leluhur menjadi sangat lemah. Benda-benda tersebut kemudian tidak mendapat perhatian yang berarti. Banyak peninggalan leluhur yang rusak. Lalu musnah dimakan usia. Bahkan hilang karena dicuri. Terjadi pencurian besar-besaran atas peninggalan warisan itu. Banyak peninggalan leluhur kita yang bernilai tinggi, dicuri dan dibawa ke luar negeri.

Padahal, nilai benda-benda zaman leluhur tersebut sangat berharga. Di dalam benda-benda tersebut tersimpan data-data sejarah. Tersimpan ilmu pengetahuan leluhur di zaman dulu. Karena banyaknya pencurian, walhasil kita semakin tidak tahu masa lalu tanah ini.

Karena itu, sudah saatnya kita berani bertanya dan menggugat sejarah. Benarkah Candi Prambanan dibangun oleh sekumpulan ribuan Jin? Bagaimana pendapat Anda?

Salam Indonesia Baru!
#Mr.Tan