Showing posts with label Taste of Java. Show all posts

gravatar

Menikmati Panorama Candi Pringapus

Temanggung - 30/03/14 Bagi anda yang sedang cari - cari liburan atau weekend bersama keluarga maupun sang pujaan hati, mungkin liburan ke Candi Pringapus yang terletak di Kabupaten Temanggung bisa jadi alternatif untuk liburan untuk anda. dan untuk masuk ke obyek wisata tersebut adalah gratis hanya saja kita mengisi buku tamu. Candi Pringapus terletak di Desa Pringapus Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, dari Candi Pringapus kita bisa menikmati panorama alam disekitar candi dengan pemandangan yang indah tentunya. Candi ini berdiri pada tahun 850, 852 bahkan ada juga yang memperkirakan tahun 900 atau sesudahnya.
Menurut seorang arkeolog, Djulianto Susanto (Menentukan Pertanggalan Candi; 2003). Bagi anda yang sedang pengen liburan Candi Pringapus bisa jadi alternatif buat anda. (Oemam)

gravatar

Serupa Namun Tak Sama

Kudus - Ya, Serupa Namun Tak Sama itulah kata - kata yang terucap ketika melihat tanaman ini yaitu Kluwih atau di kenal dengan nama Artocarpus Camansi dan Sukun yang dikenal dengan nama Artocarpus Altili. Sekilas tanaman ini sama seperti bersaudara, akan tetapi terdapat perbedaan dari kedua tanaman ini jika kita amati.

Perbedaan itu terletak pada buahnya yaitu bentuk dan isi didalamnya, Kluwih atau orang jawa menyebutnya dengan istilah "Kluweh" ini sering digunakan untuk dibuat sayur. Perbedaan antara Kluwih dan sukun adalah dari bentuk kluwih terdapat banyak duri yang sangat tajam, Dan saat di belah terdapat biji yang besar.

Sedangkan Sukun sering masyrakat buah ini untuk buat cemilan seperti kripik, Sukun Goreng dll, perbedaannya antara lain adalah bentuk permukaan buah halus tidak ada duri jika kita belah tidak ada bijinya sama sekali.

Itulah perbedaan dari kedua tanaman ini, mungkin anda juga punya tanaman yang dibilang "Mirip Namun Tak Sama".

*Oemam

gravatar

Kirab Budaya Mahrojan Wali - Wali Jawi 2014


Demak Jawa Tengah - 22/02/14 Dalam Kirab Budaya Wali yang dihadiri oleh Bupati Demak dan Gus Mus begitu sangat ramai dengan antusias masyarakat sekitar yang ikut berpartisipasi. Kirab Budaya yang dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan dari replika Menara Kudus, Bedug Sunan Muria beserta penghasilan bumi, tari - tarian, dan lainya yang berasal dari pulau jawa ini mampu menghipnotis para penonton akan pesonanya yang di tampilkan sebagai wujud pelestarian budaya yang menjadikan media dakwah islam para wali terdahulu. Acara Mahrojan wali - wali jawi tersebut hari ini adalah puncak acaranya, meskipun acara kirab di guyur hujan rintik - rintik.







*Oemam

gravatar

Sejarah Wayang Klithik


Wayang Klithik adalah Wayang yang terbuat dari kayu, wayang ini beda dari wayang - wayang yang lain seperti wayang golek dan wayang kulit. Wayang Klithik pertama kali di ciptakan oleh Pangeran Pekik Adipati Surabaya, selain disebut wayang klithik wayang ini di sebut juga dengan wayang Krucil karena wayang ini bentuknya kecil. Cerita yang dipakai dalam wayang klithik, pada umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit.

Kenapa di Sebut Wayang Klithik ?
Karena wayang ini jika dimainkan berbunyi "Klithik, Klithik", begitulah Asal Muasal Nama Wayang Klithik.

*Oemam

gravatar

Masjid Menara Kudus



Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsadan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549Masehiatau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Pada masa kini, masjid ini biasanya menjadi pusat keramaian pada festival dhandhanganyang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan Ramadan. 
Menara Kudus
Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Masjid Al Aqsa Kudus
Masjid Al Aqsa Kudus



Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrabmasjid yang ditulis dalam bahasa Arab.


Adapun Arsitekturnya adalah :

1. Masjid Menara

Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918-an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang merupakan "padasan" tersebut merupakan peninggalan kuna dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".
Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.
2. Menara

Menara Masjid
Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).
Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.
Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpangbangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Demikian info kami mengenai Masjid Menara Kudus semoga bermanfaat. 


Sumber : wikipedia - ensiklopedia bebas
Gambar : Gawi Bastian

#cambria

Powered by SouvenirBagus & GrosirKudus

gravatar

Ampyang Maulid Budaya Loram Kulon

 KUDUS-ISK- Tradisi budaya Festival Ampyang Maulid di desa Loram Kulon kecamatan Jati, yang sejarahnya berasal dari perjuangan Sunan Hadhlirin dalam berdakwah membumikan islam di bagian selatan, dengan lewat pendekatan sosial dan budaya. Pada waktu itulah ketika di bulan Maulid Nabi( Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Sunan Hadhlirin mengajak masyarakatnya untuk merayakannya dengan berbagai pernak pernik beragam kharakteristik yang dimiliki, sehingga sampai sekarang masih di pertahankan Budayanya walau ratusan tahun berlalu, walau tergerus dalam dunia Modernisasi. 
Selain itu, suatu sisi yang tak kalah menariknya, menjadikan khas budaya dari Loram kulon, terletak pada Hiasan Krupuk yang di susun sedemikian rupa dan di tambah serutan bambu sehingga terbentuk kriting yang kemudian menjadi sebuah bentuk yang menyerupai Ampyang.
Acara festival Ampyang sebanyak 40 peserta ini, begitu sangat mendapatkan hati dan Antusias warga dalam berpartisipasi demi menyemarakkan budaya yang telah dijadikan media dakwah islam terdahulu. Berlangsung ramainya, acara pukul 14:00 WIB di hadiri oleh Bupati kabupaten Kudus, H.Musthofa dan Wakil, H.Abdul Hamid beserta jajaran SKPD lainnya. Sebuah desa yang menjadikan tempat kelahiran H.Musthofa, Bupati kudus, memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh warga di tengah tengah sambutannya. ''Saya ingin,desa yang menjadikan desa kelahiranku, harus dapat menjadi desa percontohan atas kaya akan seni dan budayanya''ujar beliau H.Musthofa.
Tak hanya berbagi keceriaan pada event festival tersebut, berbagi kasihpun juga dapat di peruntukkan bagi orang yang tidak mampu. Seperti halnya, ketika  awal sambutannya Bupati Kudus, H.Musthofa memberikan bantuan Kursi Roda kepada Ibu Zumirah yang tadi sore tadi diwakili oleh Putranya. 
Apa yang telah dibuat sedemikian bentuk rupanya sebagai bahan pertunjukkan dari warga Desa Loram kulon, menunjukkan bahwa Besar akan partisipasinya atas festival Ampyang Maulid dengan segala bentuk kreatifitasnya, hal ini artinya bahwa Berkreatifitas seni tak pernah ada Matinya. 

#Sang_Pejuang
*Redaksi


gravatar

Lentog Tanjung


Kudus, everyday is culinary days

Lentog artinya Lontong. Dahulu, penjualnya berasal dari Desa Tanjungkarang (Tanjung). Maka dinamai Lentog Tanjung. Namun kini telah menyebar ke seluruh pelosok kota Kudus. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang sebesar betis orang dewasa. Biasanya lentog tanjung dinikmati sebagai menu untuk sarapan, terdiri dari 3 bahan utama, ada lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu.

Lentog Tanjung terdiri dari 2 kata, lentog dan tanjung. Lentog atau yang biasanya disebut lontong adalah sebuah makanan yang yang terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang . Sedangkan tanjung (Tanjungkarang) adalah sebuah desa yang berada tepatnya di kecamatan Jati Kab. Kudus, Jawa Tengah. Ya memang makanan khas pagi ini dahulu hanya berasal dari desa sana dan hanya dijual di sekitar daerah tersebut dan ramai pada saat hari Minggu atau libur. Sekarang pun masih ada, walaupun dibeberapa tempat di lain desa juga berdiri warung warung yang menawarkan lentog Tanjung.

Di sajikan di atas piring kecil yang dialasi daun pisang serta taburan bawang goreng, membuatnya semakin gurih saat disantap. Selain tampilannya yang sederhana, untuk memakannya juga tidak menggunakan sendok, namun menggunakan suru (sendok dari daun pisang).

Join yuk di grup Info Seputar Kuliner,  untuk bisa berbagi cerita mengenai cita rasa khas Kudus 


 source : wikipedia

#cambria

Powered by GrosirKudus

gravatar

5 Januari ditetapkan sebagai Hari Pedagang Kaki Lima (PKL) Kudus

Buapati Kudus H. Musthofa


Alun-alun simpang tujuh Kudus berubah menjadi lautan pedagang kaki lima, pada hari minggu 5 januari 2014. Terlihat wajah sumringah dan senyum ceria diantara kerumunan massa yang menaiki sepeda motor dan tampak gerobak PKL diatas sepeda motor mereka. Pada hari ini Bupati Kudus H. Musthofa menyerahkan bantuan gerobak PKL kepada 915 pedagang.
"Pergunakan bantuan ini dengan baik, benar dan bertanggung jawab bantuan tersebut. Taati aturan dan ketentuan yang berlaku, terkait tempat dan jam berjualan jenengan semua. Pemerintah Kabupaten Kudus telah memberikan ruang dan wadah bagi PKL seluas-luasnya untuk berusaha, "kata Bupati Kudus H. Musthofa dalam sambutannya.

"Pada Hari Ini 5 Januari 2014 saya tetapkan sebagai Hari PKL Kabupaten Kudus." Imbuh Bupati Kudus.

"Bantuan senilai 3,1 miliar ini bersumber dari DBHCHT 2013, kami serahkan kepada 937 PKL. Anggaran ini kami gunakan untuk memberikan bantuan hibah gerobak kepada 800 orang PKL sekolah, 70 orang PKL Kaliputu dan 45 orang PKL Gang I. Selain itu juga untuk melanjutkan penataan tempat berusaha bagi 8 PKL di Jl. R. Agil Kusumadya dan 10 PKL di Halaman GOR Wergu Wetan Kudus," kata Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Sudiharti.

"Bantuan ini kami berikan dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat Pedagang Kaki Lima yang selama ini terpinggirikan. Selain itu ini juga merupakan tugas, pokok dan fungsi dari Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar dalam membina para pedagang kaki lima dan asongan. Selain itu hal ini merupakan salah satu program Pemkab sesuai visi Bupati Kudus Terwujudnya Masyarakat Kudus yang Semakin Sejahtera, " imbuh Sudiharti.
Acara ini dilanjutkan dengan konvoi 800 orang PKL Sekolah bersepeda motor mengelilingi kota Kudus. Semoga ke depan para PKL dapat berjualan dengan baik, aman, nyaman serta menjaga lingkungan sekitarnya. (Humas)

gravatar

Ampyang Maulid Loram Expo 2014


Ampyang Maulid dan Loram Expo 2014 Kali ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Acara tersebut akan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 Januari 2014.


Adapun start Ampyang Maulid start dari lapangan Kongsi Loram Wetan pukul 13.00 dan Finish ada di halaman Masjid At Taqwa Loram Kulon. Bagi sedulur ISK yang ingin meyaksikan kirab Budaya Ampyang maulid silahkan hadir dan menyaksikan di sepanjang jalan yang di lalui, mulai lapangan kongsi hingga Masjid Wali At Taqwa Loram Kulon.

Selain yang diatas adapula Loram Expo yang diadakan di Gedung Pengajian NU Loram Kulon Pada tanggal 8 Januari sampai 14 Januari 2014 dimana stand dibuka pada jam 08.00 WIB  sampai dengan 21.00 WIB.Pada acara tersebut panitia juga menampilkan kretifitas masyarakat dan lomba terbang papat. Jadi jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan pesta rakyat tersebut dan ambil hikmah di balik semua kegiatan AmpyangMaulid dan Loram Expo 2014.

#cambria 
Informasi diatas dipersembahkan oleh souvenirbagus & grosirkudus

gravatar

Patung Selaras Dan Seimbang ( Pertigaan Pentol Kudus )

Patung Pertigaan Pentol Kudus
Patung Selaras Dan Seimbang

Kudus terkenal dengan kota kretek, namun tidak hanya hasil kretek saja yang dibanggakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah patung-patung kokoh pun berdiri tegak menhiasi kota ini yang menjadikan Kota ini sebagai hasil karya seni paling tinggi dalam budaya manusia.

Patung Selaras dan  Seimbang yang berada di Pertigaan Pentol merupakan hasil karya  Pematung Benny Ronald Tahalele yang dibantu dengan Assisten pematung Iwan Aswan, Tehnisi A. Hargono Soegijo yang di Produksi oleh Triyasa Studio Jakarta. Tingginya 500 centimeter, dengan bahan baku logam yang dicairkan dan dituang (panas), logam cetak dengan tehnik electropalting. Setumpu berbahan baku andesit atau batu candi. Patung ini merupakan hasil kerjasama antara Pemda Kudus dengan PT. Djarum.

Adapun makna yang tersirat dalam Patung Selaras dan Seimbang tersebut adalah satu kondisi fundamental bagi seorang atau suatu bangsa untuk siap tinggal landas menuju dan mencapai hal-hal baru.

#cambria
Informasi diatas dipersembahkan oleh souvenirbagus & grosirkudus