Showing posts with label Budaya dan Pariwisata. Show all posts

gravatar

Transportasi Sungai Sebagai Urat Nadi Perekonomian Daerah Undaan

KUDUS-ISK- Sejauh kilas memang sungai ini tertampak penuh lumpur yang sehabis diterjang banjir setiap musimnya, akan tetapi bagaimanapun keadaannya, sungai ini tetap menjadi jalur penyeberangan antara kota Kudus dan Demak. Letak geografis sungai yang sedemikian sederhana ini menjadikan suatu keindahan lokal tersendiri tanpa dibuat buat sebab semua berjalan secara alami. Puluhan tahun silam sudah, perahu sebagai alat transportasi penyeberangan sungai ini tengah mengalami beberapa kali modifikasi setiap terjadi kerusakan. Entah kayu semakin lapuk karena terkena air secara terus menerus ataupun jumlah muatan yang tidak memumpuni. Meskipun jumlah kerugian tidak seimbang dengan penghasilannya namun tak gentar untuk tetap terus menjalankan jasa penyeberangan bagi masyarakat sekitar.

Tambang itu digunakan penyedia jasa penyeberangan untuk menarik perahu membelah sungai Wulan yang memiliki lebar sekitar 50 meter. Dengan perahu itu, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar dapat menyeberang sungai untuk bekerja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau ke sekolah di beberapa tempat di Kudus, khususnya di Kecamatan Undaan. Dengan tambang itu pula tukang perahu "mengait" nafkah dari upah yang diberikan oleh masyarakat yang menggunakan jasanya. 
- See more at: http://seputarkudus.blogspot.com/2013/01/mengait-nafkah-di-utas-tambang.html#sthash.9K1wAbaL.dpuf
 Tambang yang dijadikan alat bantu dalam mengantarkan penumpang dengan melalui  sungai yang lebarnya  kurang lebih 20 meter disertai susah payah, hanya bertarif sangat terjangkau sekali Rp 1000,- per orang. Sebut  saja Zuhri (45) yang setiap lima hari bergeliran sebagai  penarik perahu di daerah Undaan Kidul kecamatan Undaan kabupaten Kudus.  Jasa transportasi ini memang  telah dijalankan sejak  puluhan tahun lalu dari generasi ke generasi  yang baru dengan pengelola berjumlah 4 orang, setiap 2 orang bergiliran lima hari yang dilakukan secara terus menerus. Meskipun hasil dari jasa transportasi ini tidak bisa dijadikan andalan dalam mencari nafkah, baginya pekerjaan ini sangat berarti untuk dijadikan penambah perekonomian keluarganya. ''Ini hanya kerja sampingan, masih punya sawah yang menjadikan potensi bagi penghidupan keluargaku,''Ujar Zuhri penarik perahu.

Tata letak landskap transportasi sungai yang secara natural (alami) menjadikan suatu panorama keindahan desa yang berbukit bukit dihiasi hijaunya rerumputan dan tanaman. Sepertinya sudah menjadi budaya bagi masyarakat sekitar dalam memanfaatkan transportasi yang telah diwariskan pada zaman terdahulu. Keadaan ini akan berlanjut secara terus menerus seiring dengan adanya generasi baru yang sudi untuk melestarikannya. Tentunya dalam melestarikannya tidak boleh mengubah dari suatu bentuk transportasi sungai. Perahu tetap perahu dan terbuat dari kayu. Semisalnya membuat jembatan yang kokoh, jelas saja jauh yang diharapkan dari para penarik perahu. Selain mengurangi keindahan desa yang natural, juga dapat mengurangi jumlah penghasilan bagi kebutuhan keluarganya.

@Sang Pejuang    @John

Tambang itu digunakan penyedia jasa penyeberangan untuk menarik perahu membelah sungai Wulan yang memiliki lebar sekitar 50 meter. Dengan perahu itu, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar dapat menyeberang sungai untuk bekerja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau ke sekolah di beberapa tempat di Kudus, khususnya di Kecamatan Undaan. Dengan tambang itu pula tukang perahu "mengait" nafkah dari upah yang diberikan oleh masyarakat yang menggunakan jasanya. 
- See more at: http://seputarkudus.blogspot.com/2013/01/mengait-nafkah-di-utas-tambang.html#sthash.9K1wAbaL.dpuf
Tambang itu digunakan penyedia jasa penyeberangan untuk menarik perahu membelah sungai Wulan yang memiliki lebar sekitar 50 meter. Dengan perahu itu, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar dapat menyeberang sungai untuk bekerja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau ke sekolah di beberapa tempat di Kudus, khususnya di Kecamatan Undaan. Dengan tambang itu pula tukang perahu "mengait" nafkah dari upah yang diberikan oleh masyarakat yang menggunakan jasanya. 
- See more at: http://seputarkudus.blogspot.com/2013/01/mengait-nafkah-di-utas-tambang.html#sthash.9K1wAbaL.dpuf
Tambang itu digunakan penyedia jasa penyeberangan untuk menarik perahu membelah sungai Wulan yang memiliki lebar sekitar 50 meter. Dengan perahu itu, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar dapat menyeberang sungai untuk bekerja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau ke sekolah di beberapa tempat di Kudus, khususnya di Kecamatan Undaan. Dengan tambang itu pula tukang perahu "mengait" nafkah dari upah yang diberikan oleh masyarakat yang menggunakan jasanya. 
- See more at: http://seputarkudus.blogspot.com/2013/01/mengait-nafkah-di-utas-tambang.html#sthash.9K1wAbaL.dpuf

gravatar

Pelestarian Transportasi Klasik ''Delman'' Banyak Digunakan Dalam Pengiringan Ritual Religi

KUDUS-Salah satu transportasi tradisional di kabupaten Kudus tanpa menggunakan mesin selain becak, dan perahu yaitu kendaraan Delman. Delman ini tidak beroda tiga yang seperti becak akan tetapi beroda dua yang mengandalkan tenaga kuda. 
Kendaraan yang terkenal pada zaman pemerintah Hindia-Belanda, semakin sedikit dalam memanfaatkannya. Sekarang dunia sudah jauh berbeda, dimana teknologi sudah berkembang dengan pesatnya, transportasi bermesin yang penuh modifikasi mampu menghipnotis para masyarakat dalam memanfaatkannya.
 
Ya, meskipun mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Maka tidak suatu hal baru lagi, pemanfaatan kendaraan delman dari tahun ke tahun mengalami jumlah yang semakin menurun dari kuantitasnya.  Sementara itu di tanah jawa, kendaraan delman ini banyak yang melestarikannya pada suatu acara tertentu. Bentuk kendaraan delman yang tidak jauh beda, hanya saja dikasih hiasan yang memukau menjadikan warna dalam suatu acara pengiringan ritual religi, semisalnya Khitanan, Nikahan dan lain sebagainya. Wujud acara yang sedemikian rupa ini sebagai pelestarian nilai nilai budaya dan pukau estetika yang patut dipertahankan.

@Sang Pejuang

gravatar

Dilema Potensi Benda Cagar Budaya Kudus

KUDUS-ISK-Benda Cagar Budaya ini terletak di Desa Demangan dukuh tepasan (selatan Kelenteng masuk gang ke selatan)yang terdiri dari Susunan batu Bata menyerupai bangunan Candi dan disekitarnya terdapat batu lumpang.

Dari 42 situs Benda Cagar Budaya (BCB) di Kudus yang telah diinventarisasi, enam situs di antaranya telah didaftarkan dalam cagar budaya nasional. Keenam situs tersebut adalah Menara Kudus, Gapura Paduraksan, Masjid Loram Kulon, serta Masjid & Makam Sunan Muria dan termasuk Masjid Bubar terang Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudpar Kudus Sancaka D.Supani

Kondisi Masjid Bubar tersebut saat ini sungguh memprihatikankan ditengah kekayaan Kota Kudus akan artefak budayanya. Penulis buku Refilosofi Kebudayaan, Syaiful Arif melihatnya sebagai sebuah gejala tuna budaya, yakni kekayaan budaya yang dimiliki tak bisa dimaknai sebagai benda budaya yang memuat nilai-nilai di dalamnya.
 

Banyaknya bangunan yang menjadikan cagar budaya kabupaten Kudus yang begitu tampak kurang diperhatikan akan perawatannya berdampak pada turunnya nilai nilai budaya zaman terdahulu.
Kita berharap Pemkab Kudus dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus lebih Serius memperhatikan Banyaknya Kondisi Benda Cagar Budaya di Kudus yang masih terbengkalai.



@Jivan @Sang-Pejuang

gravatar

Fashion Show Kartini Mewujudkan Wanita Multi Cerdas

KUDUS-ISK Grand final perlombaan Fashion show Kartini, hari ini Rabu 23 April 2014 di Pandopo kabupaten Kudus berlangsung meriah. Sebanyak 20 para finalis dari 36 peserta di seluruh SMA,SMK, dan MAN se kabupaten Kudus bertarung secara sportif dengan berbekal IQ yang tinggi, cerdas dan smart. Tanya jawab yang tertulis pada kertas bergulung di dalam toples tanpa mengetahui pertanyaannya menjadikan tantangan bagi peserta dalam menjawab secara baik dan tepat sesuai dari bahasa pertanyaannya tersebut.
 
Tujuan acara yang diselenggarakan oleh DISDIKPORA (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) ini selain sebagai mengisi peringatan Hari Kartini juga sebagai ajang prestasi IQ, bahwa dalam perlombaan tersebut tidak hanya mengutamakan multi beauty ataupun multi tallent, akan tetapi juga multi cerdas yang harus dimiliki oleh setiap peserta.

 Berikut pemenang Fashion show Kartini yaitu: 
Juara Harapan 1 diraih oleh SMKN 1 Kudus
Juara Harapan 2 diraih oleh SMK PGRI 1 Kudus
Juara Harapan 3 diraih oleh SMK Miftahul Falah

Juara 1 diraih oleh SMA 1 Kudus
Juara 2 diraih oleh SMA 2 Kudus
Juara 3 diraih oleh SMK Al Islam


#Sang_Pejuang

gravatar

Tarif Parkir Waterboom Mulia Wisata Dawe





Tiket
Tiket Wisata Waterboom Mulia Mobil
Kudus - 13/04/14 Pada hari libur akhir pekan biasanya  masyarakat Kudus pada umumnya berpergian ke tempat wisata bersama keluarga maupun bersama sang kekasih,  seperti halnya berwisata air di Waterboom Mulia Wisata tepatnya di Desa Lau Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.

Wisata air yang begitu ramai tersebut ternyata memiliki manajemen operasional yang belum tertata rapi, salah satunya adalah tarif parkir kendaraan bermotor yang tidak sesuai yang semestinya. Tarif parkir yang semestinya  kendaraan bermotor yang seharusnya Rp. 1.000 tetapi jadi Rp. 2.000 yang sama dengan parkir mobil, dan untuk kendaraan roda dua diberikan karcis kendaraan roda empat. 
 
Sementara itu, pada saat Bapak Kandar sebagai petugas parkir memberikan keterangan,  “ karena ini hari minggu, dan tambah - tambah untuk membeli krupuk “ tandasnya.
 
Waterboom Mulia Bapak Budi Sebagai Manajer Operasional Waterboom Mulia Lau

Selain itu dari keterangan Bapak Budi sebagai Manajer Operasional tempat wisata air tersebut mengatakan “ Saya baru tahu kejadian tersebut karena petugas parkir tersebut sebelumnya adalah sebagai security karcis masuk, dan untuk alasan membeli krupuk atau konsumsi lainnya dari pihak manajemen sudah menyiapkannya “ tegasnya.

Dari kejadian di atas, jika terus – menerus dilakukan maka tidak menutup kemungkinan pariwisata di kudus tentunya  akan mendapatkan citra yang negatif dari masyarakat kudus maupun di luar kudus.

#Redaksi

Tarif Parkir Waterboom Mulia Wisata Dawe

gravatar

Universitas Muria Kudus Serahkan 10 Gaston ke Dinas Perhubungan

Kudus,Dalam rangka Berpartisipasi dalam mensukseskan Kegiatan Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus  Yayasan Universitas Muria Kudus menyerahkan Gaston Pembatas jalan pagi tadi 13/04 usai acara Car Free Day di Timur Alun Alun Simpang Tujuh Kudus.

Penyerahan secara Simbolis dan penandatanganan serah terima dilakukan oleh Zamhuri Ketua Yayasan UMK kepada Kepala Dinas Perhubungan yang diwakili oleh Bag.Lalu Lintas Putut.
Dalam acara ini Gaston yang digunakan sebagai pembatas jalan yang membedakan kawasan CFD dan jalan bebas Lintas kendaraan bermotor diharapkan bisa berfungsi maksimal.

"Sebagai partisipasi kalangan Akademisi dalam upaya menumbuhkan rasa memiliki dan menikmati fasilitas yang diberikan pemerintah sehingga muncul kesadaran tertib berlalu lintas dalam kehidupan bermasyarakat."Kata Zamhri di sela sela serah terima Gaston."Agar Gaston ini bisa bermanfaat untuk Dinas terkait dan Partisipasi UMK dalam mensukseskan kegiatan Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus Khususnya acara rutin CFD,"imbuhnya.ISK.

gravatar

Pasar Pagi Pasar BITINGAN Kudus

Kudus,Pasar Paginya kota Kudus yang satu ini menjadi pusat perdagangan hasil bumi di seluruh Kabupaten Kudus bahkan sentra sentra hasil bumi di Jawa Tengah berpusat di Pasar Bitingan ini.Terletak di Pusat kota Kudus yang berdampingan dengan Kudus Plaza yang merupakan pusat perbelanjaan dan termasuk tujuan wisata keluarga.


Pasar Bitingan Kudus yang dikenal warga dengan pasar Anyar ini menjadi ramai dan hidup saat malam tiba.Bahkan mulai pukul 00.00 aktifitas para pedagang sudah mulai tampak,sehingga pihak Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar berencana memaksimalkan tempat bongkar muat agar tidak menimbulkan kemacetan.

Para pedagang dan Pembeli mempunyai waktu khusus untuk melakukan aktifitasnya yakni pada malam atau bahkan fajar antara pukul 03.00 dinihari sampai menjelang pagi.Tentusaja pada waktu tersebut harga yang ditawarkan juga sangat hemat karena merupakan harga Bakul atau istilahnya grosir.Dari sayur mayur sampai palawija semua tersedia disini,apalagi sentra makanan ringan semua mencari bahan baku palawija disini.
Pasar Bitingan yang memiliki 2 lantai dengan sayur,ikan juga daging berada di lantai atas untuk mengurangi kerumunan lalat dan alasan kebersihan.
Mr

.

gravatar

Sapu Sebagai Contoh Kebersamaan yang Membawa Manfaat

Sapu,sepintas merupakan alat yang seringkali kita tempatkan di belakang rumah,di dapur atau di tempat yang tidak ditunjukkan khalayak.Disini memiliki makna bahwa keberadaan sapu yang sangat penting sebagai sarana untuk membersihkan sampah tidak selalu berada dalam tempat yang menonjol.Dalam legenda Jawa sapu gerang malah dianggap mampu mengusir kekuatan gaib yang jahat.
Arti yang lebih tepat jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari kita adalah Bahwa dengan kebersamaan yang erat dan kokoh kita mampu melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi masyarakat.

@Redaksi.

gravatar

Menikmati Panorama Candi Pringapus

Temanggung - 30/03/14 Bagi anda yang sedang cari - cari liburan atau weekend bersama keluarga maupun sang pujaan hati, mungkin liburan ke Candi Pringapus yang terletak di Kabupaten Temanggung bisa jadi alternatif untuk liburan untuk anda. dan untuk masuk ke obyek wisata tersebut adalah gratis hanya saja kita mengisi buku tamu. Candi Pringapus terletak di Desa Pringapus Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, dari Candi Pringapus kita bisa menikmati panorama alam disekitar candi dengan pemandangan yang indah tentunya. Candi ini berdiri pada tahun 850, 852 bahkan ada juga yang memperkirakan tahun 900 atau sesudahnya.
Menurut seorang arkeolog, Djulianto Susanto (Menentukan Pertanggalan Candi; 2003). Bagi anda yang sedang pengen liburan Candi Pringapus bisa jadi alternatif buat anda. (Oemam)

gravatar

BUPATI KUDUS Deklarasikan Berbahasa Jawa

Kudus (25/3) - Bahasa Jawa penuh dengan ajaran budi pekerti, tata krama dan sopan santun yang berguna bagi pembangunan karakter, khususnya di kalangan generasi muda. Untuk itu, keberadaannya perlu dilestarikan dan terus dikembangkan. Dengan semangat tersebut, maka pada hari ini BupatiKudus, H. Musthofa, mendeklarasikan hari berbahasa Jawa untuk Kabupaten Kudus bertempat di pendopo Kabupaten, selasa (25/3).

Acara deklarasi dengan  judul “Byawara Basa Jawi Kabupaten Kudus Warso 2014”, dihadiri tak kurang dari 1000 peserta dari berbagai kalangan. Nuansa bahasa Jawa sangat kental terasa, karena seluruh rangkaian acara dibawakan dengan menggunakan bahasa Jawa. Mulai dari pembawa acara, pembacaan deklarasi, bahkan Bupati memberikan sambutannya pun dalam bahasa Jawa.

Dalam sambutannya tersebut, beberapa kali bupati salah menyebut kosa kata dalam bahasa Jawa. Hal inipun diakuinya sebagai sebuah proses pembelajaran yang terus dilakukannya. “Salah sedikit tidak apa-apa, yang penting sudah ada langkah bersama untuk maju. Bapak ibu guru kalau sedang mengajar murid-muridnya jangan kuatir salah, ini tidak ada dendanya. ”, katanya berseloroh.

Deklarasi ini, seperti yang disampaikan oleh Kepala Disdikpora Kab. Kudus, Hadi Sucipto, bertujuan untuk membangkitkan semangat dalam mengembangkan bahasa Jawa di Kudus. “Hal ini penting bagi pengembangan karakter, karena bahasa Jawa sarat dengan nilai nilai luhur budaya seperti perilaku sopan santun dan tata karma yang saat ini sudah mulai pudar”, jelasnya.

Dengan deklarasi ini, maka untuk selanjutnya setiap hari Rabu, semua kegiatan baik di lingkungan pemerintahan, swasta, dan sekolah di lingkungan Kabupaten Kudus harus memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. (humas)

#Sang_Pejuang
*Redaksi

gravatar

Permadani Angkat BUPATI KUDUS Sebagai Anggota Kehormatan


Kudus-ISK- Mengingat  berbagai jasa bupati Kudus, H. Musthofa, terhadap Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) berupa pembinaan dan pengembangan Permadani dalam pelaksanan tri karsa budaya sebagai dukungan terhadap upaya pemerintah untuk memperkuat jati diri dan kepribadian bangssa serta ketahanan kebudayaan nasional, maka bupati Kudus diangkat sebagai anggota kehormatan. Pengangkatan ini dilakukan langsung oleh perwakilan pengurus Permadani pusat, H. Anwar Effendi, MT., dalam acara Wisuda Purnawiyata Pawiyatan Panatacara tuwin Pamedhar Sabda Bregada XIV Permadani Kab. Kudus yang berlangsung
di pendopo (2/3).

Dalam sambutannya, bupati Kudus menyatakan rasa terimakasihnya ataspengangkatan ini. Dirinya berharap agar Permadani mampu menancapkanperannya lebih dalam lagi dalam upaya untuk melestarikan budayabangsa. "Saya berharap agar warga Permadani tidak sekedar mahir bertutur bahasa yang halus saja namun mampu menjadi suri tauladan yang
baik bagi masyarakat", katanya. Hal ini disampaikannya karena dirinya sangat memahami bahwa majunya suatu bangsa tak lepas dari pengembangan karakter anak bangsanya. "Semangat ini ingin saya wujudkan melalui sebuah deklarasi yang menetapkan ada satu hari dimana seluruh pejabat, masyarakat, maupun anak sekolah untuk berbahasa jawa dalam satu hari
tersebut", ujarnya.

Menurut keterangan panitia wisuda, H. Sulardi, bahwa pada kali ini 
Permadani Kudus melakukan wisuda untuk 28 orang anggotanya. "Semula
semuanya ada 43 orang, namun dalam perjalanannya beberapa ada yang berhalangan, sehingga berkurang 15 orang", terangnya. Namun, menurutnya, hal itu tak menyurutkan semangat Permadani untuk selalu mengobarkan semangat untuk berbuat lebih dalam upaya meninggikan budi pekerti bangsa, sehingga nantinya bisa menjadi bangsa yang lebih bermartabat. Dalam wisuda kali ini, selain dihadiri oleh perwakilan Permadani dari Rembang, Blora, Pati dan Demak, dihadiri pula oleh perwakilan warga dari Sedulur Sikep yang ada di Kudus.

#Sang_Pejuang
*Redaksi


gravatar

Kirab Budaya Mahrojan Wali - Wali Jawi 2014


Demak Jawa Tengah - 22/02/14 Dalam Kirab Budaya Wali yang dihadiri oleh Bupati Demak dan Gus Mus begitu sangat ramai dengan antusias masyarakat sekitar yang ikut berpartisipasi. Kirab Budaya yang dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan dari replika Menara Kudus, Bedug Sunan Muria beserta penghasilan bumi, tari - tarian, dan lainya yang berasal dari pulau jawa ini mampu menghipnotis para penonton akan pesonanya yang di tampilkan sebagai wujud pelestarian budaya yang menjadikan media dakwah islam para wali terdahulu. Acara Mahrojan wali - wali jawi tersebut hari ini adalah puncak acaranya, meskipun acara kirab di guyur hujan rintik - rintik.







*Oemam

gravatar

Sejarah Wayang Klithik


Wayang Klithik adalah Wayang yang terbuat dari kayu, wayang ini beda dari wayang - wayang yang lain seperti wayang golek dan wayang kulit. Wayang Klithik pertama kali di ciptakan oleh Pangeran Pekik Adipati Surabaya, selain disebut wayang klithik wayang ini di sebut juga dengan wayang Krucil karena wayang ini bentuknya kecil. Cerita yang dipakai dalam wayang klithik, pada umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit.

Kenapa di Sebut Wayang Klithik ?
Karena wayang ini jika dimainkan berbunyi "Klithik, Klithik", begitulah Asal Muasal Nama Wayang Klithik.

*Oemam

gravatar

Masjid Menara Kudus



Masjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Aqsadan Masjid Al Manar) adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549Masehiatau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama. Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Mesjid ini berbentuk unik, karena memiliki menara yang serupa bangunan candi. Masjid ini adalah perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu. Pada masa kini, masjid ini biasanya menjadi pusat keramaian pada festival dhandhanganyang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan Ramadan. 
Menara Kudus
Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Masjid Al Aqsa Kudus
Masjid Al Aqsa Kudus



Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrabmasjid yang ditulis dalam bahasa Arab.


Adapun Arsitekturnya adalah :

1. Masjid Menara

Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918-an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang merupakan "padasan" tersebut merupakan peninggalan kuna dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".
Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.
2. Menara

Menara Masjid
Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).
Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.
Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpangbangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Demikian info kami mengenai Masjid Menara Kudus semoga bermanfaat. 


Sumber : wikipedia - ensiklopedia bebas
Gambar : Gawi Bastian

#cambria

Powered by SouvenirBagus & GrosirKudus